Aker

Provinsi Papua
Komunal Ekspresi Budaya Tradisional
Jenis Pengetahuan dan Kebiasaan Perilaku Mengenai Alam dan Semesta
Sub Jenis teknologi tradisional, pengetahuan tradisional,
Kustodian (Masyarakat yang Memelihara)
Alias
Pelapor
Uraian Singkat Masyarakat Kampung Sarwa memiliki tradisi menangkap ikan dengan cara menjebaknya memakai tumpukan batu yang sengaja dibuat oleh masyarakat, tumpukan batu tersebut disebut Aker. Untuk membuat Aker terlebih dahulu dilakukan pengamatan lingkungan pantai, struktur pantai, dan tempat ikan-ikan berkumpul manakala air pasang oleh seseorang yang dianggap piawai dalam kegiatan ini. Selain itu, ia yang dalam bahasa Biak disebut Mamfakir, menentukan lokasi di mana aker akan dibuat, di mana material batu haruslah tersedia di sekitar tempat yang akan dibuat aker Biak. Pembuatan aker ini juga tidak jauh dari lokasi hutan bakau. Setelah mendapatkan lokasi aker sang pengamat (Mamfakir) akan mendiskusikannya dengan pemuka adat.Aker biasanya dimanfaatkan pada musim wampasik atau air laut mengalami surut pada siang hari. Setelah masyarakat sampai di pesisir pantai, mereka akan mengumpulkan batu dan menyusunnya seperti membuat bedengan yang disesuaikan dengan luas pantai. Pembuatan aker dapat berlangsung selama seminggu itu pun bila bahan matererial berupa batu mencukupi. Aker rata-rata berbentuk empat persegi atau setengah lingkaran, ukurannya tergantung dari bentuk lokasi yang ada. Warga lebih senang membuat aker pada saat air laut pasang karena batu-batu yang dikumpul akan lebih ringan. Saat aker sudah jadi pemilik aker akan kembali memeriksa tumpikan batu dan merapikannya.
Gambar picture
Sumber / link https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailTetap=437