Zikir Saman Banten

Provinsi Banten
Komunal Ekspresi Budaya Tradisional
Jenis Tradisi dan Ekspresi Lisan
Sub Jenis seni,ritus,tradisi lisan,
Kustodian (Masyarakat yang Memelihara)
Alias
Pelapor
Uraian Singkat

Dikatakan Dzikir Saman karena dzikir ini konon pertama kali diperkenalkan oleh Syeh Saman dari daerah Aceh. Kesenian ini disebut juga Dzikir Maulud karena di dalamnya disenandungkan syair-syair yang mengagungkan asma Allah SWT dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW yang terkumpul dalam kitab Barjanji (sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW).

Dzikir Saman merupakan kesenian tradisional rakyat Banten yang menggunakan media gerak dan lagu (vokal) dan syair-syair yang dilantunkan mengagungkan Asma Allah dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Pemain Dzikir Saman berjumlah antara 26 sampai dengan 46 orang. Vokalis terdiri dari 2 sampai 4 orang berperan membacakan syair-syair Kitab Berjanji, sementara 20 sampai 40 orang yang semuanya laki-laki mengimbangi lengkingan suara vokalis dengan saling bersahutan bersama (koor) sebagai alok. Para pemain tidak menggunakan pakaian seragam dengan corak yang sama tetapi disesuaikan dengan tradisi setempat. Mereka menggunakan celana pangsi hitam, baju kampret, dodot dengan motif kain batik, ikat kepala batik, dan ikat pinggang dari batik pula. Waditra atau alat bantu yang digunakan pada kesenian ini adalah berupa benda menyerupai kipas yang terbuat dari kulit kerbau berukuran 40X40 cm dengan tangkai pegangan dari rotan sepanjang 70 cm, alat ini disebut hihid. Cara memainkan hihid dengan memukulkan secara berpasangan satu dengan yang lain, sehingga menghasilkan sebuah irama.

Pola permainan seni Dzikir Saman dilakukan sehari penuh dengan tiga babakan (episode), yaitu: Babak Dzikir, Babak Asroqol, dan Babak Saman. Episode pertama, rnelaksanakan dzikir dari mulai pukul 08.00 sampai dengan pukul 1200. Pada episode ini para pemain berdzikir, berdoa, membacakan puji-pujian, dan salawat kepada Rasul. Mereka duduk berhadapan sambil memegang hihid dan tampaklah suasana khidmat dan sakral.Episode kedua dimulai dari pukul 12.00 sampai dengan pukul 15.00. Episode ini dinamakan asroqol yaitu babak yang menonjolkan lengkingan vokal (beluk). Para pemain membentuk formasi berhadapan dengan teknik berdiri dan jongkok silih berganti. Para pemain satu dengan yang lain memukulkan hihid lalu terdengar sayup-sayup dilantunkan syair berisi sejarah kelahiran Nabi Muhammad saw. Episode yang ketiga dinamakan saman. Episode ini dilakukan dari mulai pukul 5.00 sampai selesai. Para pemain tidak menggunakan hihid lagi, mereka menari dengan menggerakkan tangan dan kakinya mengikuti alunan suara vokal dan koor. Masyarakat yang ada di lapangan terus mengiringi arak-arakan dan menari secara spontan mengikuti suara vokal, kemudian membentuk lingkaran dan mengelilingi sebuah dongdang berisi makanan. Dongdang tersebut isinya diperebutkan. Selanjutnya, masyarakat melakukan saweran yaitu melemparkan sejumlah uang kepada para pemain. Acara ditutup dengan pembacaan doa.

Gambar picture
Sumber / link https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailTetap=491