Annyorong Lopi

Provinsi Sulawesi Selatan
Komunal Pengetahuan Tradisional
Jenis Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-Perayaan
Sub Jenis pengetahuan tradisional,ritus,adat istiadat,
Kustodian (Masyarakat yang Memelihara)
Alias
Pelapor
Uraian Singkat Annyorong lopi “Upacara Peluncuran perahu” 1. Nama dan Latar belakang Upacara Secara harfiah annyorong lopi terdiri atas dua kata, yaitu annyorong (mendorong) dan lopi (perahu). Jadi, annyorong lopi berarti mendorong perahu atau biasa pula disebut peluncuran perahu. Annyorong lopi bukanlah aktivitas biasa yang dilakukan oleh nelayan setiap akan berangkat atau pulang melaut dengan mendorong perahu ke bibir pantai atau sebaliknya mendorong ke laut. Akan tetapi annyorong lopi adalah suatu aktivitas ritual yang dilakukan oleh masyarakat Bonto Bahari Kabupaten Bulukumba sebagai sesuatu tanda syukur atas selesainya suatu kegiatan pembuatan perahu , dan perahu tersebut akan dioperasionalkan di laut. Khusus Peluncuran alat transportasi baru termasuk annyorong lopi, upacara syukuran yang dilakukan senantiasa dirangkaikang dengan cara songka bala (tolak bala). Acara tolak bala merupakan sistem keparcayaan lama yang masih kental dalam alam pikiran masyarakat setempat. Acara tolak bala biasanya dipimpin oleh seorang dukun yang disebut guru. Istilah guru diyakini berasal dari Batara Guru. Yaitu anak sulung Dewa Patotoe (Sang Penentu Nasib) yang diturungkan ke bumi sebagai manusia pertama penghuni ini. Batara Guru merupakan salah satu tokoh legendaris dalam epos Lagaligo. Melalui pengantar sang guru tersebut, diyakini perahu tersebut selama dioperasionalkan akan terhindar dari marabahaya, termasuk nahkoda dan para kelasinya. 2. Maksud dan Tujuan Upacara Upacara adat annyorong lopi merupakan suatu perwujudkan rasa syukur bagi pemilik perahu dan para tukang atas selesainya pembuatan perahu yang mereka harapkan . Perwujudan rasa syukur tersebut dialamatkan kepada Tuhan atas berkah dan keselamatan yang diberikan selama proses pembuatan perahu tersebut. Sebagai mahluk sosial. Perwujudan rasa syukur tersebut melibatkan orang banyak untuk turut bergembira dan menikmati sajian yang dipersiapkan oleh empunya kegiatan. Selain acara syukuran. Upacara adat annyorong lopi juga dirangkaikan acara Songka bala. Hal ini dimaksudkan agar perahu baru tersebut dapat terhindar dari marabahaya yang senantiasa mengancam keselamatan ketika berada di tengah laut. Demikian pula kelurga yang ditinggalkan di darat, dapat pula terhindar dari bahaya tersebut. Selain itu, dimaksudkan pula agar selama perahu tersebut dioperasionalkan senantiasa mempeoleh keuntungan dan rezeki yang banyak. 3. Waktu da Tempat pelaksanaan Upacara Waktu pelaksanaan ritual upacara adat annyorong lopi disesuaikan dengan adanya perahu baru yang telah selesai dibuat. Waktu yang dianggap tepat untuk meluncurkan perahu biasanya pemilik perahu berkonsultasi dengan guru syara’ untuk menentukan hari baik pelaksanaan ritual upacara tersebut. Hari-hari baik itu biasanya disesuaikan dengan sistem pengatahuan tradisional masyarakat setempat yang dipadukan dengan ajaran agama islam. Pelaksanaan upacara tersebut dilakukan selama dua hari, yaitu pada hari pertama dilakukan pada hari sore hari. Dan hari kedua diadakan pada pagi hari. Pada hari pertama penyembelihan hewan kurban berupa kambing dan dua ekor ayam (jantan dan betina). Penyembelihan dilakukan di atas perahu, tepatnya didekat mesin perahu. Sedangkan pada hari kedua dengan pokok acara pembacaan kitab al-barazanji dan songka bala dilakukan di atas perahu. Sedangkan para tamu yang datang dapat menepati ruang yang diatas perahu atau tempat yang telah disiapkan sekililing badan perahu. Selesai pembacaan Kitab al-barazanji dan makan bersama para tamu dilakukan pemberian pusat perahu yang dikenal dengan ammossi. Selanjutnya setelah kegiatan ammossi selesai kemudian dilanjutkan di bantilang (tempat pembuatan perahu), tepi pantai hingga perahu tersebut meluncur ke laut. 4. Pemimpin dan Pesrta Upacara Pemilik Perahu merupakan penyelenggara utama dalam ritual upacara annyolorong lopi. Sebagai penyelenggara utama, ia menanggung seluruh biaya yang digunakan dalam prosesi upacara adat tersebut. Selain itu, ia pula yang menentukang siapa-siapa guru syara’ dan warga masyarakat yang dipanggil atau diundang untuk hadir dalam upacara tersebut. Namun apabila pemilik perahu bukan orang setempat (berasal dari luar), maka pemilik perahu menyerahkan sepenuhnya kepada punggawa lopi untuk urusan teknisnya. Selain pemilik perahu bersama keluarganya,terdapat pula beberapa orang yang memegang peranan penting dalam prosesi ritual upacara tersebut,yaitu guru syara. Dimana guru syara berperan sebagai pemimpin upacara pada tahap kegiatan pembacaan kitab al – barazanji dan songka bala (tolak bala) dilakukan di pagi hari. Selain itu terdapat pula orang yang disebut punggawa (kepala tukang) yang berperanan sebagai pemimpin pada acara pembuatan possi (pusat) perahu. Setelah selesai pembuatan possi (pusat) perahu.Setelah selesai dilakukan ammosi perahu maka perahu akan segera di dorong atau di luncurkan ke laut. Prosesi upacara tersebut juga terlibat secara aktif sebanyak puluhan atau bahkan ratusan orang. Mereka itu terdiri atas para sawi (anak buah tukang) nahkoda bersama kelasinya yang akan melayarkan perahu, anggota guru syara , kaum laki laki yang akan mendorong perahu, dan kaum wanita yang menyiapkan makanan untuk para tamu dan peserta upacara. Banyaknya kaum laki laki dan kaum perempuan yang di undang untuk mendorong perahu dan menyiapkan makanan biasanya di sesuaikan dengan besarnya perahu yang akan di luncurkan.Semakin besar perahu tersebut, maka semakin banyak orang yang diundang. 5. Persiapan Upacara Setelah perahu yang di pesan oleh pemilik sudah rampung termasuk pengecatan ,maka pemilik perahu sudah mulai mempersiapkan uparaca annyorong lopi.persiapan paling utama adalah ditentukan adalah mengenai hari pelaksanaan upacara, karena sangat terkait dengan nasib atau keberuntungan masa depan perahu itu sendiri. Penentuan hari dikaitkan dengan sistem pengatahuan tradisional masyarakat yang berkaitan dengan hari-hari baik dan buruk. Orang di daerah tersebut meyakini dan mempercayai bahwa ada waktu yang yang baik untuk melakukan sesuatu termaksud dalam kegiatan upacara, karena diyakini dapat memperoleh keberuntungan dan keselamatan, dan ada pula waktu yang tidak baik atau buruk untuk melakukan sesuatu karena diyakini dapat memperoleh sial atau malapetaka. Bagi mereka isi waktu itulah yang penting, kualitas suatu waktu tergantung pada isinya, apakah baik atau buruk. Misalnya hari naas, yaitu hari-hari yang sama dengan tangal satu Muharram pada tahun berjalan dianggap sebagai hari yang buruk . Demikian pula Bulan terjepit, yaitu bulan yang diantarai oleh dua hari raya , yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha dianggap bulan yang tidak mempunyai berkah. Sehinggah hari-hari dalam bulan tersebut dianggap buruk untuk melakukan sesuatu Demikian pula beberapa hari lainnya. Penentuan hari pelaksanaan upacara, biasanya pemilik perahu berkosultasi dengan guru syara’. 6. Bahan dan Perlengkapan Upacara Setelah penentuan hari pelaksanaan upacara, disiapkan pula beberapa perlengkapan upacara. Perlengkapan uapacara yang utama adalah binatang yang akan dikurbangkan beserta beras dan bumbu-bumbunya. Binatang yang akan dikurbankan biasanya disesuaikan dengan besarnya perahu. Bilamana perahu tersebut bertonase besar, seperti pinisi, maka binatang yang dikurbangkan berupa kerbau. Sedengkan bertonase sedang atau kecil biasanya binatang yang dikurbankan adalah kambing atau ayam . Selain binatang, disiapkan pula beras ketan dan beras biasa. Beras ketan akan dibuat nasi ketan sebanyak empat warna, yaitu merah,hitam,kuning dan putih Nasi ketan tersebut akan disuguhkan dalam bentuk sesajian pada acara songka bala. Sedangkan beras biasa yang jumlahnya cukup banyak akan dibuat nasi sebagai konsumsi para tamu penyelanggara upacara. Dalam acara tersebut juga disiapkan beberapa sisir pisang dan kue-kue tradisional berupa Haje, lopisi, onde-onde, kaddo massigkulu sebagai perlengkapan sesajian songka bala. Persiapan yang lain dilakukan, adalah mempersiapkan peralatan yang akan digunakan, seperti priuk tolak bala beserta air sumur dan beberapa macam ramuan. Disiapkan pula pa’otere (sejenis pahat kecil yang digunakan oleh orang dulu mengebor kayu) dan alat bor masa kini. Kedua alat tersebut akan digunakan untuk membuat possi (pusat) perahu. Selain itu. Disiapkan pula kain putih dan selembar kain sarung yang akan diselimutkan kepada punggawa pada saat mengebor. Disiapkan pula sebuah botol yang berisi minyak kelapa yang gunanya untuk menampung serbuk bekas pengeboran. Untuk kelengkapan peluncuran perahu pada pagi harinya, disiapkan pula dengan memasang kengkeng jangang yakni balok-balok besar dan panjang agar tidak rebah dn miring pada saat perahu didorong dan beberapa potong gallasara (kayu bulat atau batang kelapa) yang akan fungsikan sebagai titian perahu pada saat kalibiseang (punggung perahu) didorong agar dapat lebih muda meluncur kelaut.dan orang yang bersuara keras yang dapt memberi aba-aba atau komando agar semua orang dapat serentak dan bersemangat mendorong perahu. Berbagi persiapan yang telah dilakukan tersebut, termasuk undangan yang secara lisan, terutama kepada guru syara’ bersama anggotanya, punggawa bersama sawinya nahkoda bersama kelasinya dan anggota masyarakat secara keseluruhan, dan anggota masayarakat secara keseluruhan, baik laki-laki maupum perempuan yang akan membantu mendorong perahu dan menyiapkan makanan dan minuman. Atas kehadiran mereka semua sangat membantu dan menentukan jalannya prosesi upacara tersebut. 7. Jalannya Upacara Sebelum pelaksanaan proses peluncuran perahu ada 3 tahapan yang harus dilewati hingga perahu tersebut dapat diluncurkan, dimulai dari 1). Anna‘bang kayu “menebang kayu’’ . Menebang kayu di hutan pada dasarnya memohon izin dan restu pada kekuatan gaib agar merelakan kayunya untuk ditebang. Tampak pada upacara ini perilaku punggawa yang lain
Gambar picture
Sumber / link https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailTetap=783