Arsitektur Rumah Betawi

Provinsi DKI Jakarta
Komunal Pengetahuan Tradisional
Jenis Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional
Sub Jenis teknologi tradisional,pengetahuan tradisional,
Kustodian (Masyarakat yang Memelihara)
Alias
Pelapor
Uraian Singkat

Bagi masyarakat Betawi, membangun rumah adalah sesuatu yang sangat penting bagi keluarga muda Betawi (keluarga baru), jika belum punya rumah maka mereka akan terus-menerus tinggal di rumah keluarga besarnya sampai ia memiliki rumah. Karena menurut adat turun-temurun, jika sang anak yang sudah menikah telah memiliki rumah, maka keluarga sang anak harus melaksanakan pindah rumah.

Banyak pertimbangan yang dipakai antara lain dari segi biaya, ketersediaan material bahan bangunan, dan lahan tempat rumah akan dibangun bahkan pertimbangan yang berpatokan dengan alam gaib. Hal-hal seperti pertimbangan tersebut dihitung oleh seorang kyai yang memiliki keahlian ilmu falak, di antaranya arah rumah, lahan, dan waktu dimulainya pembangunan. Di beberapa tempat, masyarakat Betawi membangun rumahnya berdasarkan arah naga besar walaupun pada dasarnya rumah bisa dibangun asal lahan itu miliknya. Kayu yang digunakan untuk membangun rumah biasanya menggunakan pohon yang ada disekitar rumah seperti yang berasal dari pohon nangka, asem, atau cempaka. Ada tradisi yang tidak boleh dilanggar, rumah tidak boleh dibangun di atas lahan yang telah dikeramatkan dan jangan membangun rumah anak di sebelah kiri rumah orangtuanya. Konon dapat menyebabkan keluarga si anak mengalami sakit penyakit dan rezekinya terhambat.

Ada kepercayaan mengenai larangan dan aturan yang harus dipatuhi saat pembangunan rumah, bertujuan supaya penghuni rumah mendapatkan keselamatan di tempat tinggalnya dan mendapatkan hal-hal yang baik dalam hidupnya. Beberapa pantangan dan aturan dalam penggunaan bahan bangunan: Kayu nangka tidak boleh dibuat trampa atau drampol, yaitu bagian bawah kusen pintu. Sebab ada kepercayaan bahwa orang yang berani melangkahi kayu nangka bisa terkena penyakit kuning. Kayu cempaka dibuat untuk kusen pintu bagian atas supaya harum. Ada kepercayaan bahwa penggunaan kayu cempaka akan membuat penghuni rumah selalu baik-baik dan disenangi tetangga. Kayu asem tidak boleh dipakai untuk bahan bangunan rumah karena akan menganggu hubungan dengan tetangga. 

Sebelum pembangunan rumahnya, orang Betawi menyiapkan kayu yang telah diawetkan, metode pengawetan tanpa bahan pengawet memakan waktu sangat lama yang dapat memakan waktu hingga berbulan-bulan agar nutrisi kayu benar-benar hilang atau termodifikasi yaitu dengan perendaman kayu di air mengalir maupun di lumpur yang banyak mengandung bakteri. Perendaman di air mengalir dimaksudkan agar nutrisi kayu terbawa arus, sedangkan perendaman dalam lumpur dimaksudkan agar nutrisi kayu terfermentasi bakteri. Orang Betawi dulu sering menerapkan cara ini dengan meletakkan kayu di sungai, kolam ikan, got, hingga persawahan. 

Setelah baturan, disiapkan lima batang garam. Tiap garam ditaruh di pojok-pojok tanah, sisanya di tengah-tengah     (1 buah). Konon garam-garam tersebut ditakut oleh jin-jin dan roh halus lainnya. Saat memasang umpak batu sebagai alas sebelum tiang guru didirikan, uang ringggitan, perakan, atau gobangan harus diletakkan di atas tumpak batu agar kehidupan pemilik rumah diharapkan makmur sejahtera. Dan nanti setelah rangka bangunan berdiri sebelum memasang kaso di tiang ander diikatkan sepandan pisang raja, sepandan kelapa, sedapur tebu, dan dikibarkan bendera merah putih. Di wilayah tertentu ada pula yang selamatan dengan membuat bubur merah putih dan bubur itu diplengsong (dibungkus) kemudian diletakkan di tiap tiang guru. Ini diyakini sebagai sesajen agar orang alus tidak mengganggu penghuni rumah.

Jika segala perhitungan dalam memulai pembangunan rumah sudah selesai maka diadakan upacara pra-pembangunan rumah. Hal ini dengan mengumpulkan sanak keluarga untuk membahas rumah jenis apa yang akan dibangun (Gudang, Joglo dan Bapang). Sanak keluarga diharapkan dapat ikut membantu secara materil maupun immateril. Dalam pertemuan itu akan diketahui apa saja yang harus dilakukan dan dipersiapkan dan yang telah dimiliki.

Andilan adalah nama lama untuk upacara Pra-Pembangunan. Dalam pertemuan yang disebut andilan tersebut sanak keluarga berkumpul untuk bergotong-royong untuk membantu sesuai dengan kemampuannya. Istilah andilan lebih luas dipakai untuk kegiatan swadaya anggota keluarga dalam mencapai sesuatu. Sanak keluarga dapat membantu antara lain memberikan uang, peralatan membangun rumah, genteng, papan kayu, maupun kayu untuk dijadikan tiang.

Setelah itu akan dilaksanakan tahlilan supaya rumah selama proses pembangunan mendapat keberkahan dan kemudahan. Para tetangga juga dapat ikut membantu meratakan tanah lahan yang akan dibangun (sambatan).

Pada hari yang telah ditentukan setelah sambatan, maka lahan yang akan dibangun akan diuruk untuk menambah ketinggian (baturan). Sementara ahli bangunan (tukang) sudah membuat pondasi, tiang guru, kuda-kuda, pengeret, ander, penglari, papan nok, siku, ragam hias dan lain-lain. Jenis-jenis pohon yang digunakan diartikan secara simbolis sebagai hubungan manusia dengan alam.

Setelah baturan, disiapkan lima batang garam. Tiap garam ditaruh di pojok-pojok tanah, sisanya di tengah-tengah (1 buah). Konon garam-garam tersebut ditakut oleh jin-jin dan roh halus lainnya. Saat memasang umpak batu sebagai alas sebelum tiang guru didirikan, uang ringggitan, perakan, atau gobangan harus diletakkan di atas tumpak batu agar kehidupan pemilik rumah diharapkan makmur sejahtera. Dan nanti setelah rangka bangunan berdiri sebelum memasang kaso di tiang ander diikatkan sepandan pisang raja, sepandan kelapa, sedapur tebu, dan dikibarkan bendera merah putih. Di wilayah tertentu ada pula yang selamatan dengan membuat bubur merah putih dan bubur itu diplengsong (dibungkus) kemudian diletakkan di tiap tiang guru. Ini diyakini sebagai sesajen agar orang alus tidak mengganggu penghuni rumah.

Secara keseluruhan, rumah-rumah Betawi yang ada saat ini memiliki kesamaan berupa berstruktur rangka kayu dan beralas tanah yang diberi lantai tegel atau semen (Salim, 2015). Namun jika dilihat dari organisasi ruangannya, terdapat perbedaan antara rumah satu dengan rumah lainnya. Walau demikian, setiap rumah Betawi tetap memiliki ruangan-ruangan yang sama yang menjadi ciri khas dari rumah Betawi. Terdapat 4 (empat) ruangan yang pada umumnya dimiliki setiap rumah Betawi, yaitu: (a) bagian luar (teras), digunakan untuk menerima tamu, tidur siang dan bersosialisasi dengan tetangga; (b) bagian dalam, digunakan untuk ruang keluarga, ruang makan, dan kamar tidur; (c) bagian belakang, digunakan untuk dapur yang terkadang juga berfungsi sebagai ruang makan, serta; (d) kamar mandi/WC, umumnya berada di luar bangunan rumah. (Dianty, 2017)

Rumah Betawi didirikan dengan menggunakan berbagai macam material. Material tersebut oleh masyarakat Betawi banyak berasal dari alam sekitar yang dapat dimanfaatkan sebagai material dalam pembuatan rumah Betawi. Material penutup atap menggunakan genteng atau daun kiraiyang yang dianyam, konstruksi kuda-kuda dan gording menggunakan kayu gowok atau kayu kecapi, balok tepi, terutama diatas dinding luar menggunakan kayu nangka yang sudah tua, sedangkan kaso dan reng menggunakan bambu tali. Bambu yang digunakan sebagai kaso adalah bambu utuh dengan diameter kurang lebih 4 cm, sedangkan yang digunakan untuk reng adalah bambu yang dibelah. Material dinding bagian depan menggunakan kayu gowok atau kayu nangka yang terkadang dicat dengan dominasi warna kuning dan hijau. Dinding rumah lainnya menggunakan bahan anyaman bambu (gedhek) dengan atau tanpa pasangan bata di bagian bawahnya. Daun pintu atau jendela biasanya terdiri dari rangka kayu dengan jalusi horisontal pada bagian atasnya atau pada keseluruhan daun pintu/jendela. Pondasi rumah menggunakan batu kali dengan sistem pondasi umpak yang diletakkan di bawah setiap kolom, sementara untuk landasan dinding menggunakan pasangan batu bata (rollag) dengan kolon dari kayu nangka yang sudah tua. (Tjandra, 2006). 

Dulunya, rumah adat Betawi dibuat dari bambu. Sedangkan sekarang ini karena pengaruh modernisasi, rumah adat suku Betawi terbuat dari dinding tembok. Jika dulunya lantai rumah tradisional ini terbuat dari tanah, sekarang terbuat dari keramik atau plesteran semen. Rumah ini terlihat sederhana namun tetap terlihat apik dengan pagar kayu yang mengelilingi bangunan rumah. 

Saat tamu berkunjung, para tamu dipersilakan duduk di bagian depan rumah atau balai-balai rumah. Teras rumah terbuka dengan beberapa tempat duduk kayu. Tempat ini cukup luas. Yang unik dari rumah adat Betawi adalah dinding bagian depan rumah yang bisa dibongkar pasang. Hal ini bertujuan agar rumah bisa dibuka jika si empunya rumah menyelenggarakan hajatan atau acara sosial yang mengharuskan mengundang banyak orang. Bagian tengah rumah biasanya digunakan sebagai ruang tidur, dapur, kamar mandi, dan sebagai pembatas terdapat semacam pintu kayu yang diberi kisi-kisi tempat sirkulasi udara. Pada umumnya pintu terbuat dari kayu yang diberi lubang-lubang angin yang juga berfungsi mengatur sirkulasi udara. Rumah adat suku Betawi mungkin terlihat sederhana namun secara sosial, rumah suku Betawi merupakan jenis rumah yang memperhitungkan fungsi sosial si empunya rumah juga. Karena pada suatu saat, jika empunya rumah ingin mengadakan hajatan atau acara sosial, papan depan rumah dapat dilepas sehingga memungkinkan lebih banyak orang ditampung di dalam rumah

Bentuk rumah Betawi dapat dilihat berdasarkan bentuk dan struktur atapnya. Oleh karena itu, rumah tradisional Betawi mengenal 3 (tiga) bentuk utama; yaitu rumah Gudang, rumah Joglo, dan rumah Bapang atau Kebaya; yang berkaitan dengan bentuk dan pembagian denahnya (Salim, 2015). Dalam jurnal Patanjala, Alamsyah (2009) mendeskripsikan perbedaan dari ketiga rumah Betawi tersebut sebagai berikut: 

 

Rumah Gudang 

Rumah Gudang memiliki tengah segi empat, memanjang dari depan ke belakang. Atapnya berbentuk pelana, tetapi terdapat pula rumah gudang yang beratap perisai. Struktur atap rumah gudang, baik yang beratap pelana maupun perisai, tersusun dari kerangka kuda-kuda dan ditambah satu elemen struktur atap, yaitu jure. Struktur kuda-kuda yang terdapat pada rumah gudang pada umumnya bersistem agak kompleks karena sudah mulai terdapatnya batang tekan miring (dua buah) yang saling bertemu pada sebuah batang tarik tegak yang pada rumah Betawi lazim disebut ander. Sistem seperti ini tidak dikenal pada rumah-rumah tradisional lainnya di Indonesia. Selain itu, pada bagian depan rumah gudang terdapat sepenggal atap miring yang disebut juga topi atau dak atau markis, yang berfungsi menahan cahaya matahari atau tempias hujan pada ruang depan yang selalu terbuka.

 

Rumah Joglo

Nama dan bentuk rumah joglo dapat dipastikan hasil pengaruh langsung dari arsitektur atau kebudayaan Jawa pada arsitektur rumah Betawi. Namun terdapat perbedaan antara rumah Joglo Jawa Tengah dengan rumah Joglo Betawi. Pada rumah joglo asli di Jawa Tengah, struktur bagian joglo dari atap disusun oleh sistem struktur temu gelang atau payung; sedangkan pada rumah joglo Betawi disusun oleh kuda-kuda. Namun berbeda dengan rumah gudang, sistem kuda-kuda pada rumah joglo Betawi adalah kuda-kuda timur yang tidak mengenal batang-batang diagonal seperti yang terdapat pada sistem kuda-kuda barat yang diperkenalkan oleh Belanda. Pada umumnya, rumah joglo Betawi memiliki bentuk denah bujur sangkar. Tetapi perlu dicatat, dari seluruh bentuk bujur sangkar itu, bagian yang sebenarnya membentuk rumah joglo adalah suatu bagian empat persegi panjang yang salah satu garis panjangnya terdapat dari kiri ke kanan ruang depan. Dengan demikian sepenggal bagian depan dari ruang depan sebenarnya diatasi oleh terusan dari atap joglo yang ada. Sehingga bagian ruang depan yang diatapi terusan dan bagian utama rumah yang diatapi joglo secara keseluruhan menghasilkan denah berbentuk bujur sangkar 

 

Rumah Bapang

Pada prinsipnya, atap rumah bapang atau kebaya adalah juga berbentuk pelana. Tetapi berbeda dengan atap rumah gudang, bentuk pelana rumah bapang adalah tidak penuh. Kedua sisi luar dari atap rumah bapang sebenarnya dibentuk oleh terusan dari atap pelana tadi yang terletak di bagian tengahnya. Dengan demikian, maka yang berstruktur kuda-kuda adalah bagian atap pelana yang berada di tengah. Dalam hal ini, sistem struktur atap yang dipakai adalah sistem kuda-kuda timur. (Alamsyah, 2009)

Gambar picture
Sumber / link https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailTetap=1136