AMFYANIR KARWAR

Provinsi Papua
Komunal Ekspresi Budaya Tradisional
Jenis Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional
Sub Jenis Pengetahuan Tradisional, Seni Rupa
Kustodian (Masyarakat yang Memelihara)
Alias
Pelapor
Uraian Singkat Karwar/korwar adalah patung manusia dalam posisi duduk atau berdiri dengan kepala yang besar. Wajahnya dikenal melalui hidung yang tajam (mancungdan mulut yang lebar). Patung ini dibuat sebagai kenang-kenangan bagi seseorang yang telah meninggal dunia, yang semasa hidupnya telah banyak berjasa bagi keret ataupun keluarganya (Rumansara dkk, 2012 : 42). Dimasa lampau patung/amfyanir karwar yang dibuat hanya khusus menyerupai manusia yang sudah meninggal dan ditambahkan dengan motif-motif tertentu seperti matahari, naga, ular dan lain-lain. Namun, sekarang patung/amfyanir karwar yang dibuat sudah menggunakan motif-motif yang dulu menjadi bagian dari patung/amfyanir karwar ditambah dengan motif dewa-dewi laut serta motif-motif hasil kreasi dari para pengukir/seniman. Dalam perkembangannya motif-motif yang dahulu merupakan bagian dari patung Karwar yang berbentuk manusia, sekarang motif-motif ini sudah menjadi bentuk patung tersendiri, sehingga istilah Amfyanir Karwar yang dahulu identik dengan rupa manusia menjadi istilah untuk semua patung atau ukiran yang dibuat oleh sukubangsa Biak. Karena itu dimasa sekarang patung/amfyanir karwar yang biasanya dibuat, terdiri dari berbagai jenis (berdasarkan hasil wawancara dengan para seniman/pengukir), yaitu : - Sikob adalah patung/amfyanir karwar yang berbentuk manusia yang pada bagian wajahnya dilubangi sebagai tempat untuk menaruh tenggorok orang yang sudah meninggal dunia. - Opur bukor adalah amfyanir ruh yang bagian kepalanya berisi tengkorak dari orang orang terkemuka atau khusus untuk para kepala suku dan tetua adat klen atau marga. - Mambri adalah patung/amfyanir yang dibuat khusus untuk menghormati panglima perang atau kepala suku yang mempunyai kemampuan didalam memimpin perang dan selalu memenangi perang tersebut - Korben (Naga), adalah jenis patung/amfyanir yang dahulunya biasanya menjadi bagian dari ukiran patung/amfyanir karwar. Ukiran ini berkaitan dengan sejarah, religi dan mitologi sukubangsa Biak. - Uyas (udang), adalah jenis patung/amfyanirpatung yang sekarang dibuat oleh para pengukir yang terinspirsasi dari kekayaan alam yang terdapat di sekitar kepulauan Biak. - Wonggor (Buaya), adalah jenis patung/amfyanir yang dahulunya biasanya menjadi bagian dari ukiran patung karwar. Ukiran ini berkaitan dengan sejarah, religi, dan mitologi marga tertentu dalam sukubangsa Biak. - Mangganggang (Elang), adalah jenis patung/amfyanir yang sekarang dibuat oleh para pengukir yang terinspirsasi dari kekayaan alam yang terdapat di sekitar kepulauan Biak. - Ikan, adalah jenis patung/amfyanir yang sekarang dibuat oleh para pengukir yang terinspirsasi dari kekayaan alam yang terdapat disekitar kepulauan Biak. - Dewa, adalah jenis patung/amfyaniryang dibuat oleh sukubangsa Biak, berdasarkan hasil wawancara dengan Pak Mikha, mengatakan dewa bukan saja ada dalam budaya sukubangsa lain, namun juga ada dalam budaya Biak, salah satu dewa yang dipercayai adalah dewa/dewi laut, yang sekarang banyak dibuat dalam bentuk patung karwar. - Kasib (soa-soa), adalah patung/amfyaniryang dahulunya biasanya menjadi bagian dari ukiran patung karwar. Ukiran ini berkaitan dengan sejarah, religi dan mitologi sukubangsa Biak. Berikut ini akan diuraikan beberapa jenis kayu/pohon yang biasanya digunakan untuk membuat patung karwar(berdasarkan hasil wawancara dengan para pengukir), antara lain: - Kabu (Merbau) - Moref - Mnai - Sner (kayu besi) - Marem - Kriwek (lebani) - Sandwin (lingua) - Armiekem (kayu hitam) - Ainus - Manawa (kayu Matoa) - Dar - Kobsur - Dari jenis-jenis kayu di atas, kayu yang sekarang lebih sering digunakan sebagai bahan baku patung karwar yaitu kayu besi, karena tidak terlalu berserat, sehingga dalam proses pembuatannya tidak terlalu memerlukan tenaga informan memiliki serat sehingga dalam proses pembuatannya memerlukan waktu yang lama, karena harus mengikuti alur serat tersebut serta selesai pembuatan/penghalusan serat kayu masih terlihat sehingga kurang begitu bagus hasilnya. Adapun peralatan yang digunakan untuk membuat Ampyanir Karwar, terdapat peralatan yang secara tradisional mereka buat sendiri, selain ragam peralatan modern yang dibeli di toko antara lain: - Kampak (mgan), digunakan untuk menebang dan memotong pohon; - Parang (sumber), digunakan untuk untuk mengikis atau membersihkan batang pohon. - Pisau (inoi/famaras), digunakan untuk membuat guratan-guratan atau untuk memperjelas bentuk-bentuk tertentu. - Pahat, digunakan untuk memahat patung karwar. Pahat yang digunakan terdiri dari berbagai ukuran dari yang kecil sampai yang besar. Melihat dari model dan bentuk pahat yang digunakan, maka pahat tersebut merupakan buatan tangan dari para pengukir sendiri. - Bor, digunakan untuk melubangi bagian-bagian tertentu yang sulit untuk dipahat. Biasanya bor digunakan pada celah kaki dan tangan, yang kemudian akan dipahat, sehingga bentuk celah atau lipatan kaki dan tangan terlihat. - Deser (Mangar way), merupakan alat yang berbentuk seperti palu yang terbuat dari kayu digunakan untuk memukul pahat. - Sekap Manual, digunakan untuk menghaluskan kayu - Sekap kupu-kupu, digunakan untuk menghaluskan kayu - Kikir kayu, digunakan untuk menghaluskan kayu - Amplas, digunakan untuk menghaluskan kayu - Gergaji, digunakan untuk memotong kayu. - Batu gosok(asa), untuk menajamkan pahat dan pisau - Meter, untuk mengukur kayu - Siku tukang, untuk melihat kelurusan kayu - Pensil tukang, untuk membuat gambar motif - Spidol, untuk membuat gambar motif - Kikir gergaji, untuk menajamkan gergaji - Meteran Dimasa lampau patung karwar memiliki fungsi antara lain sebagai media mengingat kehadiran sanak famili yang sudah meninggal, sebagai media untuk mengkomunikasikan hal-hal yang berkaitan dengan aktifitas kehidupan keluarga yang masih hidup dan lain-lain. Dimasa sekarang patung karwar yang dibuat oleh para pengukir tidak semuanya diberi kekuatan magis, sehingga fungsi dari patung karwar sudah mengalami perubahan, yang sekarang telah menjadi sarana menambah keindahan ruangan baik bagian dalam maupun luar ruangan, sebagai bahan pernak-pernik yang dapat dibawa sebagai oleh-oleh. Selain adanya fungsi terdapat pula makna, yang memiliki nilai filosofi yang tinggi. Nilai ini harusnya dipegang oleh sukubangsa Biak sebagai salah satu penuntun didalam kehidupan mereka
Gambar picture
Sumber / link https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailTetap=1986